Mia Audina Siburian
14601
Dalam
dunia pertanian, perlindungan tanaman merupakan salah satu hal yang penting dan
memiliki peran besar. Perlindungan tanaman muncul karena untuk melindungi
tanaman dari opt. Opt dapat membuat tanaman menjadi rusak dan berkualitas
rendah. salah satu contoh opt yang paling banyak diketahui di indonesia adalah
aphids. Aphids
atau kutu daun termasuk ke dalam ordo hemiptera. Aphids merupakan serangga
kecil yang menyerang tanaman. Aphids hidup berkoloni akan menghisap cairan pada
daun tanaman sebagai makanan mereka. Aphids biasa ditemukan berada di balik
daun. Daun yang terkena serangan aphids akan mengalami gejala seperti layu,
keriting, menggulung. Aphids juga
merupakan vektor bagi virus ke dalam tanaman.
Selain
menyebabkan kualitas daun menurun, aphids juga dapat menyebabkan penjakit sooty
mold pada daun. Penyakit ini muncul akibat hasil eksresi dari aphids berupa
honey dew. Cairan manis ini akan lengeket dan menghitam pada permukaan daun,
sehingga bagian daun tersebut akan terhambat proses fotosintesisnya. Honey dew
ini jugalah alasan kenapa aphids dan semut sangat dekat. Cairan manis tersebut
menjadi makanan bagi semut. Selain itu, semut dapat melindungi koloni aphids
dari musuh alaminya. Sehingga, jika ada koloni semut pada suatu tanaman, maka
terdapat koloni aphids pula.
Pada
abdomen tersebut terdapat sepasang pipa kecil yang selalu mengeluarkan tetesan
cairan. Cairan tersebut adalah zat gula yang
dihasilkan oleh reaksi di dalam tubuh kutu. Reaksi tersebut mampu mengubah
zat-zat yang dihisap kutu menjadi zat gula yang diistilahkan sebagai embun
madu. Cairan gula inilah yang dapat menarik kehadiran semut-semut tersebut
karena dapat dapat menjadi makanan yang lezat bagi mereke (Putra, 1994).
Jika satu tanaman telah
terkontaminasi, maka tanaman sekitarnya akan lebih mudah terserang oleh aphids.
Hidup aphids berkoloni banyak akan memunculkan jenis aphids dengan sayap.
Aphids bersayap akan pindah dari tanaman lama dan mncari tanaman baru sebagai
inangnya. Lahan yang telah
terkontaminasi hama aphids its better not to use for awhile. Area lahan
sebaiknya digemburkan terlebih dahulu dan tidak ditanami tanaman dengan jenis
yang sama.
Orang
yang bekerja di bidang pertanian (produsen) dan bahkan lebih banyak lagi yang
tidak terlibat di bidang pertanian tapi menjual dan mengkonsumsi produk
pertanian (pengecer, konsumen) sangat memperhatikan kualitas makanan (misalnya
vitamin, rasa), keamanan (produk yang bebas dari racun yang diproduksi oleh
alam, misalnya mikotoksin) dan residu (misalnya disebabkan oleh pestisida).
Mereka ingin makan makanan "sehat" dan harus sadar bahwa produk
"ramah lingkungan" memerlukan minimal tindakan PHT (termasuk
perawatan pestisida) agar diproduksi dengan kuantitas dan kualitas yang cukup
tinggi (Gisi dan Leadbeater , 2010).
Pengendalian
secara organik sangat dianjurkan untuk dilakukan, selain ramah lingkungan juga
dapat menambah wawasan dan mudah untuk dibuat sendiri. Pengendalian secara biologis dapat
memanfaatkan musuh alami aphids yaitu ladybird,menggunakan pestisida nabati
dari ekstrak dedaunan, atau secara manual jika jumlah kutu daunnya masih
tergolong kecil. Saat
ini, dimensi baru dalam perlindungan tanaman adalah untuk memberikan komoditas
bebas kimia dari menabur benih hingga
budidaya tanaman, kematangan dan panen. Ini memerlukan eksplorasi teknik
bolak-balik pengelolaan hama yang tidak hanya efisien, tapi spesifik, aman dan
sehat juga (Sarwar, 2013).
Pemberian
pupuk organik juga mampu memperbaiki kondisi tanaman. Kutu daun yang selalu
menyedot nutrisi tanaman di daun akan membuat nutrisi tanaman berkurang.
Nutrisi ini bisa diganti dengan menggunakan pupuk organik. Ladybird
dikenal sebagai predator hama dan merupakan teman petani. Untuk menjaga kepik
di lahan pertanian, sebaiknya tidak menggunakan insektisida terlalu banyak karena
bisa membuat ladybird terancam. Ladybird dalam sehari bisa berburu kutu daun
hingga ribuan.
Gisi U
and A. Leadbeater, 2010, The Challenge of Chemical Control as Part of
Integrated Pest Management, Journal of Plant Pathology, (92) S4.11-S4.15
Putra N.S.,
1994, Serangga Di Sekitar Kita, Yogyakarta : Kanisius
Sarwar
M., 2013, The Inhibitory Properties of Organic Pest Control Agents against Aphid
(Aphididae: Homoptera) on Canola Brassica napus L. (Brassicaceae) Under
Field Environment, International Journal of Scientific Research in
Environmental Sciences (IJSRES), 1(8) 195-201



Nama : Ahmad Johan Faidlony T
BalasHapusNIM : 16/398672/PN/14643
Kelompok 2
Nilai Berita
1. Timelines : artikel yang disampaikan merupakan artikel yang cukup baru, namun tema yang dipilih sudah pernah diangkat oleh beberapa penulis sebelumnya
2. Proximity : berita yang disajikan dekat dengan petani, karena menyangkut OPT yang berpengaruh terhadap tanaman
3. Importance : berita yang disajikan penting bagi petani karena petani membutuhkan ilmu mengenai aphids ini, demi menjaga kualitas tanaman budidaya
4. Conflict : konflik disini merinci pada kehidupan pertanian, yaitu permasalahan berupa OPT aphids yang merupakan pengganggu tanaman.
Nilai Penyuluhan
1. Ada sumber teknologi atau ide yaitu pengendalian OPT aphids, baik secara organik, biologis dan kimiawi. Serta penambahan pupuk organik untuk memperbaiki kondisi tanaman.
2. Ada sasaran, di dalam artikel, sasaran langsung adalah petani dan tidak langsung pada orang yang bekerja di bidang pertanian.
3. Ada manfaat, berupa bertambahnya pemahaman petani tentang OPT aphids dan bagaimana cara pengendaliannya agar kualitas tanaman tetap terjaga.
4. Ada nilai pendidikan, yaitu pengendalian OPT secara organik serta dengan bantuan ladybird.